+51 974436546
Seleccionar página

Ki Narto Sabdo - Ketika Prabu Salya Marah,maka Seisi Alam Hening,diam,seolah Takberani Bicara... Today

Sastra pewayangan menggambarkan bahwa emosi tokoh sebesar Salya mampu memengaruhi mikrokosmos (diri sendiri) dan makrokosmos (alam semesta).

Salya adalah mertua dari Duryudana (pihak Kurawa), tetapi ia sangat mencintai keponakannya, si kembar Nakula dan Sadewa (pihak Pandawa). tetapi ia sangat mencintai keponakannya

Pada akhirnya, kemarahan dan kesaktian Candhabirawa hanya bisa diredam oleh sosok yang tidak memiliki hawa nafsu membunuh dan berdarah putih. Yudhistira (Puntadewa), raja Pandawa yang suci, maju menghadapinya. Candhabirawa tidak menyerang Yudhistira karena tidak menemukan setitik pun amarah atau niat jahat pada diri Puntadewa, hingga akhirnya ilmu tersebut meresap damai ke dalam tubuh Yudhistira dan membebaskan jiwa Prabu Salya dari kutukan masa lalunya. raja Pandawa yang suci

Saat amarah Salya memuncak, bukan teriakan yang keluar, melainkan ketegangan batin yang luar biasa. bukan teriakan yang keluar